Tampilkan postingan dengan label SMPN 1 Tasikmalaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SMPN 1 Tasikmalaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 September 2014

Pelajaran TIK Diganti Prakarya


TASIK- Dalam Kurikulum 2013, mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMP dan SMA dihapuskan karena pembelajarannya dapat diintegrasikan ke semua mata pelajaran. Ade Kurnia SKom, guru TIK SMPN 1 Tasikmalaya mengungkapkan mata pelajaran TIK sebenarnya sangat penting dan tidak boleh dianggap sebagai keterampilan mengoperasikan komputer atau alat TIK lainnya saja, tetapi juga harus dijadikan fondasi dasar untuk generasi di abad ke-21 ini.

“Kalau di SMPN 1 mungkin anak-anaknya sudah akrab dengan gadget seperti laptop, tablet, bahkan smartphone. Sebagian besar sudah mampu mengoperasikan perangkat lunak dasar seperti microsoft word. Yang dikhawatirkan adalah siswa yang kurang akrab dengan fasilitas TIK, kesenjangan pasti akan semakin nampak,” kata Ade ketika ditemui Sabtu (14/9) lalu.


Ade mengungkapkan pelajaran TIK juga sebenarnya tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana cara mengoperasikan alat-alat TIK, tetapi juga mengajarkan mengenai aturan dan etika dalam menggunakannya. “Pendidikan bukan sekedar mentransfer ilmu, tapi juga mendidik. Dikatikan dengan mata pelajaran TIK, ketika pelajarannya masih ada dulu, kami sebagai guru TIK juga menerangkan mengenai etika berinternet,” katanya.

Namun karena peraturan sudah diberlakukan, Ade berkewajiban untuk mengikutinya. Sesuai dengan aturan pula kini para guru TIK termasuk dirinya menjadi guru prakarya. “Waktu itu ada pelatihan sekitar seminggu bagi para guru yang bertugas mengajar prakarya. Kami belajar mengenai empat bidang yang ada dalam prakarya seperti pengolahan, kerajinan, rekayasa, dan budidaya,” kata Ade.

Erwin Suryadi, guru TIK SMPN 1 Tasikmalaya yang kini menjadi guru prakarya mengatakan tugas barunya tersebut cukup menantang. “Selain pemberian materi, ada pula praktik. Yang baru-baru ini dikerjakan adalah pembuatan kerajinan dari tanah liat,” katanya.

Dalam pelatihan yang diikuti Erwin beberapa bulan lalu, pelajaran prakarya bisa disesuaikan dengan keadaan alam dan geografis masing-masing daerah. “Dari empat bidang yang ada, kita bisa memilih yang memungkinkan untuk dilakukan. Karena SMPN 1 berasa di kawasan kota, pemilihan materi prakarya lebih ke kerajinan tangan, kalau di daerah yang masih banyak lahan luas dan pertanian rata-rata melakukan budidaya,” kata Erwin.

Rabu, 03 September 2014

Tim Basket SMPN 1 Tasikmalaya Langganan Juara



TASIK- Tim Basket putera SMPN 1 Tasikmalaya (Nesatta) kembali meraih prestasi. Mereka mendapatkan juara pertama pada kejuaraan bola basket antar SMP/SMA se-Priangan Timur di Unsil, Minggu (1/9) lalu. Anggota tim basket putera yang memberikan kebanggaan pada sekolahnya antara lain M Rachmat Kurnia, M Maujillah, Saefulloh Yusuf, Dandi Taufiqurrohman, Nabil Muhammad Naufal, M tegar, M Ichsan, Aulia Darmawan, M Iqbal Herdiawan, M Siham, Putra Fajar, dan Befa Fadlullah. Dalam kejuaraan tersebut, Dandi diganjar penghargaan sebagai pemain terbaik putera.

Menurut waka kesiswaan SMPN 1 Tasikmalaya Lalan Dahlan MPd, tim basket Nesatta sering memboyong piala dalam berbagai kejuaraan. “Tahun 2013 dan 2014 juara O2SN tingkat kota, juga dua kali berturut-turut tahun 2013 dan tahun 2014 juara All Rebound Unsil, dan kejuaraan di SMAN 5 tahun 2014,” katanya ketika ditemui di SMPN 1 Tasikmalaya, Jalan Otto Iskandar Dinata, kemarin (2/9).

Lalan memberi saran agar siswa-siswi yang berkecimpung di ekskul basket bisa terus melakukan regenerasi demi mempertahankan dan meraih berbagai prestasi baru.

Dandi, anggota yang mendapatkan gelar sebagai pemain terbaik mengungkapkan kemenangan timnya kali ini patut diapresiasi karena skor yang didapat sangat beda tipis dengan proses yang cukup dramatis. “52-51. Bola yang dimasukkan ke ring pun sekitar 7 detik sebelum peluit dibunyikan,” katanya.

Pelatih tim basket Nesatta Yusuf Kolani mengapresiasi para anggota tim basket. Katanya, tim yang dilatihnya tersebut memiliki kekompakan yang patut diacungi jempol. “Tapi jangan sampai puas dulu. Tetap harus konsisten dan rajin latihan, fisik dan skill perlu terus diasah agar bisa menampilkan permainan yang lebih prima,” kata Yusuf.

Selasa, 26 Agustus 2014

Bahasa Sunda Jadi Mulok Wajib



TASIK- Seiring diimplementasikannya kurikulum 2013, bahasa sunda kini menjadi muatan lokal (mulok) wajib hampir di semua sekolah menengah. Seperti yang dituturkan Yuni, guru bahasa sunda SMPN 1 Tasikmalaya. Dijelaskannya, pelajaran bahasa sudah ditetapkan sebagai muatan lokal wajib di Jawa Barat. “Nama muloknya bahasa daerah. Kalau di Tasik bahasa sunda, di kota-kota lain muloknya menggunakan bahasa masing-masing daerah seperti bahasa cirebon dan bahasa melayu betawi,” katanya.

Hal serupa diungkapkan kepala SMPN 3 Tasikmalaya Dadang Abdul Patah. Dikatakannya, menjadikan bahasa daerah sebagai muatan lokal wajib sudah menjadi keputusan gubernur dan sudah disetujui pihak kemendikbud pusat.  “Sementara mulok pilihan pemkot yang dulu diberlakukan seperti ekonomi syariah dan pendidikan lingkungan hidup (PLH) hampir semua sudah ditiadakan. Kedua materi tersebut diintegrasikan dengan mata pelajaran lain. Ekonomi syariah masuk ke IPS dan pendidikan lingkungan hidup masuk ke pelajaran IPA biologi,” ujar Dadang.

Sementara mengenai buku kurikulum 2013 untuk pelajaran bahasa sunda hingga kini masih menggunakan materi dari soft copy DVD dan internet. “Di SMPN 3 yang belum ada buku fisik bahasa sunda, PAI, dan buku pegangan guru untuk semua matpel,” katanya

Sabtu, 16 Agustus 2014

Siswa Nesatta Juara Aksara Sunda



TASIK- Putra Fajar Rakista, siswa kelas 9A SMPN 1 Tasikmalaya (Nesatta) mendapatkan juara 1 lomba aksara sunda putera tingkat provinsi yang digelar di Lembang Juni lalu. Prestasi tersebut didapatkannya setelah berhasil mengalahkan 27 peserta yang berasal dari berbagai kota dan kabupaten se-Jawa Barat. “Sejak SD saya sudah senang menulis aksara sunda. Malah saat SD pernah juara 1 tingkat kecamatan dan juara 2 tingkat kota,” kata alumni SDN Galunggung tersebut ketika ditemui di SMPN 1, Jalan Otista, kemarin (15/8).

Saat mengikuti perlombaan, Putra harus membaca dan menulis essai dalam aksara sunda. Baginya, aksara sunda merupakan kekayaan budaya sunda yang harus dilestarikan. “Sebagian orang tua mungkin masih ada yang masih bisa menulis dan membaca aksara sunda. Tapi seiring globalisasi, rekan-rekan seusia saya jarang yang bisa. Saya mengajak kepada rekan pelajar untuk sama-sama melestarikan, minimal dengan tahu dan bisa menulis serta membacanya,” kata Putra.

Dedi Taopik, guru bahasa sunda SMPN 1 Tasikmalaya mengatakan lomba aksara sunda tersebut merupakan yang pertama digelar. “Biasanya lomba biantara, baca puisi dan sebagainya. Saya juga merespon baik lomba tersebut, sebagai upaya untuk menghidupkan kecintaan kepada aksara sunda,” katanya.

Jika saat menggunakan KTSP, nulis aksara sunda diberikan pada kelas 9, kini di kurikulum 2013 aksara sunda diberikan kepada siswa kelas 7. Hal tersebut diungkapkan Lalan Dahlan MPd, waka kesiswaan SMPN 1 Tasikmalaya. “Tapi untuk tahun ini, yang baru naik ke kelas 8 nanti tetap akan diberi karena saat mereka kelas 7 kurikulumnya masih menggunakan yang lama,” ujar Lalan. Dia berharap prestasi yang didapat Putra bisa memotivasi siswa lainnya untuk mengenal serta mencintai aksara sunda.