Tampilkan postingan dengan label SMPN 6 Tasikmalaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SMPN 6 Tasikmalaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 September 2014

Orang Tua Menjadi Pendukung Utama



Keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang bagi Wifa Jakiah Pahiroh, siswi SMPN 6 Tasikmalaya untuk memiliki prestasi. Bahkan, prestasi terbarunya sudah di tingkat nasional dengan menjadi juara 2 bidang kewirausahaan Olympiade Sains Nasional awal September 2014 lalu.

Sore itu, kami menyambangi rumah berhalaman luas di Sindangjaya Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya. Tidak lama, muncul seorang perempuan berkerudung. Dia adalah Juju Jubaedah, ibunda dari Wifa. Setelah mempersilakan masuk, Juju menuturkan dirinya baru saja menemani Wifa mandi sore.

Sambil menikmati teh hangat, Juju bercerita mengenai pengalaman anaknya bisa menjadi juara 2 dalam Olympiade Sains Nasional. Perjuangan dan kemauan Wifa untuk berangkat sekolah pun sudah diapresiasi oleh dirinya dan suami, Da’i Dahlan Sujai. Terlebih kini dengan diraihnya prestasi tingkat nasional. “Kami sebagai orang tua ikut bangga,” ucapnya.

Diceritakan Juju, sejak berusia enam bulan Wifa sudah menunjukkan gejala kelainan. Berbeda dengan bayi-bayi lainnya yang sudah bisa menyamping ataupun tengkurap, Wifa kecil termasuk pasif dan jarang bergerak. “Tidak lincah seperti bayi kebanyakan. Dulu dibawa ke dokter anak, katanya busung lapar, ada juga yang mendiagnosis Wifa kekurangan gizi. Makanya saat itu asupan makanannya lebih dijaga,” kata Juju.

Baru saat usia Wifa menginjak satu tahun, orang tuanya tergerak untuk membawa Wifa ke dokter spesialis ortopedi. Itu pun karena suatu hari tangan Wifa terbentur dan menyebabkan tulangnya sakit saat digerakkan bahkan sempat susah bergerak. “Kata dokter tulang, Wifa kena osteoporosis,” ujarnya.

Mengetahui anaknya akan mengalami kesulitan dalam menjalani kegiatan sehari-hari, Juju bertekad untuk selalu berada disamping Wifa memenuhi berbagai kebutuhannya. Hal tersebut telah dilakukannya hingga kini. Mulai dari menemani mandi, memakaikan baju, menyiapkan makanan, sesekali menyuapinya, sampai mengantar jemput Wifa sekolah. “Ya memang sulit buat Wifa untuk hidup mandiri, segalanya tergantung kepada orang lain,” katanya.

Setiap hari, ibu dua anak tersebut membangunkan Wifa untuk sholat subuh. Diungkapkan Juju, Wifa tidak begitu sulit diajak beribadah. Karena tidak bisa berdiri, Wifa sholat sambil duduk di kursi kecil. “Kemana-mana pun dipangku. Memang tampak gampang, tapi sebenarnya harus berhati-hati dan lembut kalau memangkunya. Kalau tidak, Wifa merasa kesakitan. Dia suka pegal-pegal dan keringetan,” kata Juju.

Untuk kehidupan sosial, Wifa bisa menjalaninya dengan normal. Beberapa teman sebaya suka bermain di rumahnya. Terkadang, Wifa yang menyambangi rumah teman-teman yang masih tetangga dengan diantar Ibu maupun pengasuhnya. “Di sekolah pun begitu. Kalau mau jajan, paling nitip ke teman,” katanya.

Wifa yang saat itu menyimak perbincangan selalu tersenyum saat diwawancara. Dengan input dari guru-gurunya, Wifa memiliki prinsip tidak ingin dikasihani, tetapi hanya ingin diperhatikan.

Kamis, 11 September 2014

Dua Siswa Inklusi Juara Tingkat Nasional



TASIK- Dua siswa inklusi masing-masing mendapatkan juara 2 dalam Olimpiade Sains Nasional yang digelar di Mataram Lombok, 28 Agustus sampai 1 September lalu. Mereka adalah Wifa Jakiah Pahiroh siswa kelas 8 SMPN 6 Tasikmalaya di bidang pengembangan kewirausahaan dan Arif Indra, kelas 6 SDN 2 Tanjung Tasikmalaya di bidang IPA.

Endang Rubiandini SPd, guru pembimbing mengatakan sebelum melaju ke tingkat nasional, siswa-siswi tersebut meraih juara satu di tingkat provinsi. “Tantangan di tingkat provinsi pastinya lebih berat daripada saat berlomba di tingkat provinsi. Tapi dengan kerja keras, doa, dan dukungan dari berbagai pihak, kami akhirnya bisa membawa dua piala sekaligus, untuk Jawa Barat dan Tasikmalaya,” katanya, kemarin (9/9).

Diungkapkan Endang, dari 8 delegasi Jawa Barat, hanya Wifa dan Arif yang mendapatkan penghargaan. Yang lebih membanggakan, keduanya dari Tasikmalaya. “Bersyukur sekali kerjasama yang baik antara SLB dan sekolah inklusi seperti halnya SLB Yayasan Insan Sejahtera dan SMPN 6 Tasikmalaya bisa menghasilkan siswa berprestasi. Memang siswa inklusi tidak bisa dianggap remeh. Dibalik keterbatasan dan kekurangannya, mereka punya kelebihan dan potensi,” katanya.

Hal serupa diungkapkan kepala SMPN 6 Tasikmalaya Drs Gadriaman MPd. Dirinya berharap siswa inklusi lebih diterima dan diperhatikan masyarakat serta lingkungan agar potensi mereka berbuah prestasi. “Tapi di Tasikmalaya, sudah menuju ke sana. Terbukti dengan dukungan Walikota dan Dinas Pendidikan yang turut mensukseskan Wifa dan Arif baik sebelum perlombaan maupun selama perlombaan,” jelasnya.

Siswa inklusi berprestasi, Wifa mengungkapkan dirinya senang bisa mendapatkan juara 2 di Olimpiade Sains Nasional. “Selama lomba, saya diwawancara seperti ditanya menganai laba dan lain-lain,” katanya yang bercita-cita menjadi pengusaha ini.

Rabu, 27 Agustus 2014

Siswa Inklusi SMPN 6 Berprestasi, Juara Pengembangan Kewirausahaan Tingkat Provinsi



TASIK- Siswa inklusi SMPN 6 Tasikmalaya, Wifa Jakiah Fahiroh menyabet juara 1 dalam program pengembangan kewirausahaan di Bandung, pada 23 Agustus lalu. Berkat pencapaiannya tersebut, siswa kelas 8F ini berhak melaju ke tingkat nasional di Lombok pada September mendatang.

Dalam perlombaan tersebut, Wifa yang memiliki keistimewaan secara fisik ini membuat kerudung ronce. “Senang sekali karya saya bisa dihargai dan jadi juara 1 di tingkat provinsi. Prinsip saya tidak ingin dikasihani, tapi ingin diperhatikan,” katanya ketika ditemui, kemarin (26/8).

Endang Rubiandini SPd, guru pembimbing mengungkapkan Wifa termasuk anak yang berbakat dan memiliki keterampilan yang patut dihargai. Hanya diperlukan suntikan semangat dan dukungan agar putri pasangan Juju Jubaedah dan Da’i Dahlan Suja’i tersebut percaya diri. “Dulu termasuk anak pendiam, jarang bicara. Sekarang sudah lebih berani karena kami selalu memberikan semangat. Apalagi perlombaan dalam program ini menuntutnya bisa presentasi dan menjelaskan karya apa yang telah dibuatnya,” ungkap guru SLB Yayasan Insan Sejahtera tersebut.

Kepala SMPN 6 Tasikmalaya, Drs Gadriaman MPd mengungkapkan terimakasih kepada SLB khususnya SLB Yayasan Sejahtera yang telah menjadi partner, Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, serta Pemkot Tasikmalaya atas dukungannya. “Bersyukur karena kolaborasi ini membuahkan hasil. Kekurangan memang bukan halangan untuk meraih prestasi,” katanya.

Juju Jubaedah, ibu dari Wifa pun turut bangga dengan pencapaian putri pertamanya tersebut. “Sudah diterima di SMPN 6 pun alhamdulillah. Sekarang ditambah dengan prestasi di tingkat jawa barat dan mau ke nasional, itu sebuah kebanggaan buat kami sebagai orang tuanya,” ungkap Juju.