Tampilkan postingan dengan label Feature News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature News. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Oktober 2014

Chronic, Band Lokal Tasik Kembali Bangkit


Sempat mati suri pada tahun 2007, Chronic sebuah band lokal asal Tasikmalaya kembali bangkit sejak 2013 lalu. Digawangi Angga Maulana, Shendy Rahman, Lucky Aries Pratama, Irfan Taufik, dan Dendi Jaya Kusuma, band yang dibentuk sejak 9 April 2002 ini akan kembali eksis di panggung hiburan. Kali ini tidak hanya di panggung lokal, tetapi akan merambah ke panggung nasional dengan masuk perusahaan musik atau label.

“Kami sudah memiliki link untuk menuju ke sana. Target mudah-mudahan akhir tahun ini sudah mulai menggarap album,” kata Shendy, sang vokalis ketika ditemui di Jalan Tarumanagara, kemarin (7/9).

Diceritakannya, perjalanan Chronic Band termasuk panjang dan berliku. Saat didirikan tahun 2002 semua personil masih duduk di bangku SMP. Saat itu pula posisi Dendi sebagai gitaris masih dipegang oleh Rizal. Lazimnya anak SMP yang memiliki uang jajan terbatas, Chronic Band biasa latihan di studio musik sewaan dengan patungan. “Waktu itu, kita sudah punya fans. Jadi kadang ada sumbangan dari teman-teman, terutama para cewek,” kenang Shendy lantas tertawa dan diiyakan personel lainnya.

Dikatakan Angga, setelah lulus SMP dan menyebar di SMA lain, kebersamaan Chronic tetap terjalin. Hingga tahun 2005 para personelnya berinisiatif untuk mengikuti Java Indie Compilation. Dari sana, nama Chronic beserta lagunya yang berjudul Hilangnya Satu Cinta semakin sering terdengar di berbagai radio di Tasikmalaya. “Dalam Java Indie Compilation, yang diambil untuk rekaman sebenarnya hanya 10 band. Tapi ternyata Chronic diajak sebagai feature dan kalau dibandingkan dengan 10 band lainnya, Chronic bisa mendominasi chart musik di beberapa radio,” katanya.

Masa keemasan Chronic bisa didapatkan saat itu. Berbagai tawaran untuk manggung pun berdatangan. “Tahun 2005 dan 2006 bisa dibilang masa keemasan kami. Event seperti Pensi biasa kami isi sebagai guest,” kata Angga.

Karena kesibukan masing-masing, tahun 2007 Chronic mulai jarang manggung sehingga personelnya memutuskan untuk fokus melakukan aktivitas pribadi. “Tapi kita tetap berhubungan baik. Baru tahun 2013 lalu kami mencoba kumpul-kumpul lagi hanya kali ini tanpa Rizal dan digantikan Dendi. Mudah-mudahan dalam waktu dekat karya-karya Chronic sudah bisa dinikmati,” katanya.

Selasa, 30 September 2014

Segera Ikuti Eliminasi Indonesian Idol Junior


Awalnya hanya menyanyi di rumah atau kadang di kamar mandi. Namun kini Safina mulai mewujudkan salah satu cita-citanya. Siswa kelas 6 SD Sindangrasa Ciamis ini sudah mendapatkan golden tiket dalam Indonesian Idol Junior yang ditayangkan di MNC TV. Rasa senang dan bangga tentu saja dirasakan oleh putri pertama pasangan Guhari dan Riska ini.

“Nggak nyangka karena ini seperti mimpi yang terwujud. Ini seperti awal dimana aku harus rajin berlatih vokal dan memupuk rasa percaya diri,” katanya.

Sejak kecil, perempuan yang kini bernaung dibawah Zidane Management ini menjadikan menyanyi sebagai bagian dari hobi. Namun karena dukungan orang tua, potensinya lebih tersalurkan. “Papa sempat kurang mendukung sih. Dulu aku sempat nangis-nangis pas minta izin ikutan Indonesian Idol Junior tapi akhirnya diizinin juga,” kata Safina.

Ditemani sang Mama, Safina mengikuti audisi di Jakarta tepatnya di Jalan Sudirman sekitar Bulan Agustus lalu. Dengan antrian yang sangat panjang, dirinya bisa menampilkan performa terbaiknya di depan dewan juri. “Yang ikut audisi ada sekitar 7000 orang. Jurinya keren-keren seperti Kak Irfan, Daniel Mananta, Regina Idol, sama Titi DJ. Tapi aku nggak begitu deg-degan atau nervous pas nyanyi di depan juri karena sudah biasa tampil di depan umum,” katanya yang mengidolakan Tantri Kotak ini.

Setelah mendapatkan golden tiket, Safina kini melaju ke babak eliminasi. Berbagai persiapan telah dilakukannya seperti rajin berlatih menyanyi di Zidane Management. “Sering mendengarkan lagu itu salah satu kuncinya. Terus harus bisa improvisasi dan harus punya karakter,” ujarnya.

Tetap Utamakan Pendidikan


Senang menyanyi dan kini memiliki prestasi berupa telah diraihnya golden ticket pada Indonesian Idol Junior tidak lantas menjadikan Safina bercita-cita menjadi penyanyi. Kata gadis asal Ciamis ini, dirinya berminat untuk menjadi dokter. “Inginnya sih jadi dokter yang sekaligus jago nyanyi,” katanya.

Jika Safina lolos pada babak eliminasi dan masuk 15 besar, dirinya bersyukur. Namun sekalipun usahanya hanya terhenti di babak eliminasi, dia mengaku tidak akan kecewa. “Sekarang tugasku hanya berusaha melakukan yang terbaik saja,” ungkapnya.

Hal senada diiyakan Mamanya, Riska. Menurutnya, menyanyi adalah bagian dari hobi sang anak. “Kalau nanti lolos alhamdulillah, tapi kalau pun tidak ya nggak apa-apa,” katanya.

Sebagai orang tua yang demokratis, Riska memang memberikan kesempatan bagi Safina untuk mengikuti keinginannya menyalurkan bakat dan potensi yang dimiliki. Namun Riska tetap menekankan untuk tetap mengutamakan pendidikan terhadap anaknya. “Pendidikan formal tetap harus diperhatikan. Keikutsertaan Safina dalam Indonesian Idol Juniotr itu sebagai salah satu penyeimbang dari segi non akademiknya. Tapi sejauh ini kegiatan menyanyinya tidak mengganggu jadwal sekolahnya,” kata Riska.

Mengenai Safina yang akan segera mengikuti babak eliminasi, Riska mengharapkan anaknya tersebut diberikan yang terbaik. “Ikutan Indonesian Idol junior pasti akan menjadi salah satu pengalaman berharga buatnya. Mau lolos ataupun tidak, yang penting mendapatkan pengalaman,” katanya.

Dulu Juara Calon Bintang Radar TV, Kini Masuk Semifinal La Academia Junior


Suaranya merdu namun powerful. Itulah kelebihan Novia Zalianty yang kini menjadi semifinalis La Academia Junior yang ditayangkan di SCTV. Pernah menjadi juara Calon Bintang Radar TV saat masih duduk di bangku TK membuat Novi, sapaan akrabnya, lebih percaya diri untuk berkompetisi di panggung nasional. Bocah yang kini duduk di bangku kelas 2 SD Gunung Pereng ini sangat didukung oleh kedua orang tuanya Zenal Mutaqin dan Sri Wenti Hardiani.
 
“Orang tua sangat mendukung, Ayah dulu nganterin pas aku ikut audisi di Bandung,” katanya yang selalu tampak percaya diri ini. Diceritakan Novi, saat mengikuti audisi dirinya harus bersaing dengan ribuan anak-anak. Berangkat dari Tasik jam 4 subuh, Novi dan sang ayah kebagian audisi jam 12 siang. “Lama ngantrinya, tapi seru,” ujar Novi.

Zenal Mutaqin, ayah sekaligus manajer Novi mengungkapkan bakat anaknya tersebut telah ada sejak anak sulungnya tersebut masih balita. Novi senang menyanyi dan sudah memiliki kepercayaan diri sejak dini. “Selain punya pencapaian baru masuk semifinal di La Academia SCTV, Novi juga suka ngambil job jadi penyanyi di acara resepsi pernikahan atau sunatan,” katanya.

Novi yang lebih senang menyanyikan lagu dangdut ini pun pernah tampil sebagai pengisi acara saat Rhoma Irama datang ke Tasikmalaya beberapa bulan lalu.

Sebagai orang tua yang ingin mengembangkan potensi anaknya, Zenal mengaku akan terus mendukung Novi agar sukses di bidang yang disukainya. “Novi suka di dunia tarik suara, pasti saya dukung penuh. Tentu saja tanpa melupakan pendidikan formalnya,” kata Zenal.

Senin, 29 September 2014

Mendapat Dukungan dari Manajemen


Memiliki bakat yang diasah sejak kecil membuat Novia Zalianty pantas mendapatkan prestasi menjadi semifinalis La Academia Junior di SCTV. Tidak hanya didukung orang tua, bocah kelahiran 14 Januari 2007 ini juga didukung oleh Zidan Management yang menaunginya. Menurut ayahnya, Zenal Mutaqin, peranan tim manajemen cukup membantu terutama dalam mempromosikan Novi. “Yang saya rasakan, minat dan bakat itu harus didukung juga oleh tempat yang tepat. Di Zidan Management, minat dan bakat anak saya benar-benar terasah dan tersalurkan. Sehingga hobinya pun bisa berbuah prestasi dan apresiasi,” kata Zenal ketika diwawancara saat Novi mengisi acara di Gebyar Samudera, kemarin (28/9).

Ditemui di tempat yang sama, Angga Maulana AMd, sebagai manajer Zidan Management mengungkapkan setiap peserta management diberi link untuk berkiprah di dunia entertainment. “Berbagai informasi untuk mengembangkan bakat dan minat setiap anggota kami berikan. Termasuk Novi yang kecil-kecil cabe rawit, meski usia dini tapi bakatnya sudah oke. Saya yakin dengan bakat menyanyinya, dia bisa sukses di dunia entertaint,” katanya.

Sebelumnya, pernah ada juga anggota Zidan Management yang telah berkiprah di dunia entertaint tanah air yaitu Larissa Kentring yang bermain dalam sinetron Raden Kian Santang. “Selain Novi, ada juga Safinayang sekarang sedang ikut kompetisi Indonesian Idol Junior MNC TV. Mudah-mudahan karir mereka berjalan sesuai dengan harapan,” ungkap Angga.

Minggu, 28 September 2014

Keluarga Tetap Jadi Prioritas


Meski memiliki jadwal kerja yang padat, Danbrigif 13/1 Kostrad, Letkol Inf Windiyatno tetap menjadikan keluarga sebagai salah satu sumber utama kebahagiaannya. Setiap weekend saat tidak ada tugas, dirinya pasti mendedikasikan waktunya untuk keluarga. “Saya punya tiga putri, tapi yang paling besar di Pemalang belum diajak pindah. Dua lagi sekolah di SMPN 1 Tasik dan SDN Galunggung,” kata ayah dari Prigiwati Nurauriyatul Khoerunnisa, Maulida Aina Salsabila, dan Aulia Firdaus Calista ini.


Selain berkumpul di rumah, Windiyatno dan keluarga juga sesekali menghabiskan waktu dengan jalan-jalan atau wisata kuliner. “Kebersamaan bersama keluarga itu kebahagiaan yang patut disyukuri. Apalagi melihat anak-anak sudah tumbuh besar. Kalau tidak kumpul-kumpul di rumah, paling sesekali ke Pemalang menengok kakaknya anak-anak,” ungkap Windiyatno. “Atau makan bareng juga termasuk momen yang menyenangkan,” kata penyuka ikan asin ini.

Menurut Windiyatno, menciptakan kebahagiaan di dalam keluarga tidak lengkap jika tidak disertai kerjasama dengan sang istri Infita Kamalia SE. “Sangat bersyukur memiliki istri yang mengerti terhadap pekerjaan saya. Dia cinta pertama saya sejak SMP, mudah-mudahan jadi cinta terakhir,” pungkasnya.

Lakukan Pemanasan Sebelum Beraktivitas


Dijelaskan Agus Haryono, taichi memiliki lima gaya atau aliran yakni chen, yang, wu, dan sun. “Wu ada dua jenis. Jurusnya juga bervariasi mulai dari jurus 8, 16, dan 24. Pokoknya kelipatan delapan. Kalau rekan-rekan di Radar saya berikan yang jurus 24,” katanya yang pernah menjadi juara 2 taichi tangan kosong jurus 42 di Beijing tahun 2010 ini.

Agus cukup prihatin melihat fenomena penyakit yang semakin beragam, yang tidak hanya menyerang orang tua tetapi juga anak muda. Bahkan tidak sedikit yang harus mati di usia relatif muda karena penyakit. “Mungkin karena dari makanan dan gaya hidup. Bisa juga karena kurang gerak atau olahraga. Sebaiknya biasakan sebelum memulai aktivitas untuk melakukan pemanasan atau peregangan agar badan tidak kaget. Apalagi sekarang saya dengar banyak yang terkena penyakit urat kejepit. Bisa jadi karena jarang peregangan sebelum berkativitas,” kata Agus.

Begitu banyaknya manfaat taichi yang telah dirasakan Agus membuat dirinya terus konsisten dan ikut mengajak rekan-rekannya untuk hidup sehat. Tidak hanya olahraga, dia juga memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi. “Seminggu dua kali saya dominan makan sayur, tidak ada daging-dagingan. Itu memang komitmen saya pribadi untuk memiliki gaya hidup sehat dan manfaatnya sangat terasa,” katanya.

Sepuluh Tahun Tekuni Taichi


Sempat diledek rekan-rekannya karena mengikuti taichi yang dianggap sebagai olah raga para kaum lansia, Agus Haryono justru semakin serius untuk belajar seni beladiri asal Tiongkok tersebut. Suami dari Fanita Willyana ini menceritakan sebelum ikut taichi, dirinya pernah belajar seni bela diri yang sama-sama dari negeri tirai bambu yakni wushu. “Tahun 2004 di Bandung, saya suka ikut latihan bareng komunitas Wushu di sana. Karena saya punya sinusitis, ada yang menyarankan saya untuk ikut taichi karena katanya olahraga tersebut berhubungan dengan pernafasan,” kata Agus ketika ditemui Radar, Jumat (26/9) lalu usai latihan Taichi di halaman Radar Tasikmalaya.


Dijelaskan Agus, taichi merupakan proses mediasi yang diharmonisasikan dengan gerakan. Gerakannya termasuk sangat aman sehingga membuat seni bela diri taichi bisa dipraktikkan oleh semua usia. “Dulu sempat diledek sama teman-teman ‘Ngapain lo ikut taichi?’, tapi saya sudah merasakan manfaatnya. Dua minggu latihan, sinusitis saya berangsur membaik. Itu juga yang membuat saya konsisten sampai sekarang bahkan taichi buat saya sudah menjadi hobi dan saya mempraktikannya setiap hari,” kata lulusan Teknik Sipil Universitas Parahyangan ini.

Sejauh ini, Agus merasakan manfaat taichi dari segi kesehatan yaitu memperbaiki keseimbangan, stamina, kesehatan jantung, dan gejala yang berhubungan dengan stroke. “Gerakannya dilakukan dengan lambat dan sangat hati-hati makanya bisa dilakukan sekalipun oleh para kaum lansia,” kata Agus.
Sepuluh tahun bergelut di dunia taichi memberikan banyak manfaat tidak hanya kesehatan, tetapi juga pengalaman. Agus pernah mengikuti berbagai  pertandingan baik di dalam maupun luar negeri. “Seperti di Surabaya, Jakarta, atau Solo. Di luar negeri pernah ikut pertandingan maupun konferensi seperti di Singapura dan China. Awal Oktober ini pun saya mau berangkat ke Jepang,” katanya.

Dengan jam terbangnya yang sudah tinggi, Agus sering mendapat panggilan untuk menjadi instruktur taichi di beberapa komunitas. Salah satunya di Radar. “Ada beberapa tempat lain yang saya kunjungi untuk menjadi instruktur taichi. Masih di Tasikmalaya,” kata Agus. “Saya sangat menikmati pekerjaan sebagai instruktur taichi. Memang, apapun pekerjaannya jika didasari karena hobi dan kesukaan akan sangat terasa manfaatnya,” pungkas Agus.

Sempat Mengajar Siswa SD di Irian Jaya Di Sela-sela Penugasan Operasi



Ramah. Itulah kesan pertama saat Radar menemui Danbrigif 13/1 Kostrad, Letkol Inf Windiyatno beberapa waktu lalu. Di tengah kesibukannya, pria yang baru bertugas di Tasik sejak Maret 2014 lalu ini menyediakan waktu luang untuk berbincang-bincang mengenai pengalamannya di dunia militer.

Sambil menikmati teh hangat siang itu, Windiyatno menceritakan kisah-kisahnya mulai dari awal karir hingga pengalaman-pengalaman tak terlupakan selama bertugas. “Sebenarnya cita-cita saya dulu ingin jadi insinyur. Tapi jadinya begitu lulus SMA tahun 1989, saya ikut tes di Akabri dan lulus,” kata pria yang menghabiskan masa kecil di Pemalang ini.


Meski dibesarkan di keluarga sipil, namun saat memasuki dunia militer Windiyatno mengaku tidak begitu kaget dengan kultur yang ada di dalamnya.
Baginya, berkarir di dunia militer memberikan banyak pelajaran. Nilai-nilai yang diajarkan sama dengan nilai-nilai agama yang dianutnya. Seperti kepatuhan dan kedisplinan. “Dalam sholat kita harus disiplin mengenai waktu dan juga patuh terhadap perintah. Sama dengan di militer, apapun tugas dan perintah wajib kita laksanakan dengan disiplin,” katanya.

Lazimnya orang yang berkarir di dunia militer, Windiyatno pun sering bertugas ke tempat jauh. Seperti Timor-timur, Irian Jaya, dan Aceh. Penugasan operasi yang pertama yakni tahun 1996 ke Timor-timur yang sedang bergejolak. “Tapi karena telah dilatih, kami sudah memiliki bekal selama bertugas di sana. Sangat bersyukur saya selalu dilindungi dan selamat,” kata pria kelahiran Pemalang, 24 Januari 1970.

Tahun 1998, dirinya pun dikirim lagi bertugas ke Timor-timur. Bahkan saat itu Windiyatno masih berstatus pengantin baru. “Baru dua minggu menikah, saya harus sudah bertugas. Tapi istri saya memang sangat pengertian, dia sudah mengerti risiko pekerjaan saya,” kata suami dari Infita Kamalia SE ini.

Pengalaman lain yang tidak terlupakan saat penugasan operasi yaitu saat dirinya bertugas di Irian Jaya tahun 2001. Tidak hanya kondisi sosial yang sedang genting di sana, kondisi alamnya pun kurang bersahabat dengan banyaknya nyamuk penyebab penyakit malaria. “Di Irian Jaya saya sempat menjadi guru SD. Itu salah satu pengalaman yang tidak bisa dilupakan. Pernah juga terkena malaria meski gaya hidup bersih dan sehat telah dilakukan. Penyakit tersebut saat itu telah merenggut nyawa penduduk karena belum ada penanganan secara prima,” katanya.

Selama berada di daerah operasi, jiwa kepemimpinan Windiyatno sangat terasah. Dirinya harus membangun dan mengatur strategi jika ada gejolak. “Cita-cita saya menjadi insinyur yang mampu membangun rumah dan bangunan memang mungkin tidak terlaksana, tetapi saya sangat puas bisa menjadi insinyur perang dimana saya juga harus mampu membangun strategi,” kata Windiyatno.

Selasa, 16 September 2014

Sempat Sakit Karena Diet



Selama menjadi model di Jakarta, Meli harus bersaing ketat dengan model lainnya. Berbagai standar harus diikuti untuk bisa ikut dalam momen besar berupa fashion show para designer terkenal. Seperti postur tubuh harus ideal. “Untuk ikut Indonesia Fashion Week tinggi badan minimal harus 170 cm. Model luar negeri rata-rata banyak yang mencapai 180 cm. Jadi persaingan sangat ketat. Belum lagi berat badan harus menyesuaikan standar,” katanya yang baru lulus dari Universitas Negeri Jakarta beberapa minggu lalu tersebut.

Untuk mencapai standar tersebut, Meli pernah melakukan diet ketat hingga dirinya sakit. “Berat badan waktu itu harus dikurangi 3 sampai 5 kilogram. Untuk tinggi badan 173 cm seperti saya, berat badan idealnya harus sekitar 50 kilogram. Tapi karena akhirnya sakit, saya tidak memaksakan,” ujar perempuan kelahiran 16 September 1991 tersebut.

Selain itu, dirinya juga harus menjaga pola makan dan rutin olahraga agar berat badan terjaga. Menggeluti profesi model memang tidak mudah, tapi karena Meli menjalankannya sepenuh hati, pekerjaan tersebut tidak menjadi beban. “Justru senang sih, karena menambah uang saku,” katanya lantas tertawa.

Setelah lulus kuliah, Meli kembali ke Tasikmalaya. Hobi modelling-nya mungkin tidak akan tersalurkan secara gencar seperti saat dirinya tinggal di Jakarta. Namun dia mengungkapkan tidak begitu ambisius di dunia modelling. “Cita-cita saya ingin sukses di dunia pendidikan dan di dunia pekerjaan, apapun nanti pekerjaannya. Sekarang sedang berencana untuk lanjut magister,” katanya.

Hadapi Persaingan Ketat Saat Jadi Model Ibu Kota



Berkarir menjadi model adalah pengalaman yang menarik bagi Meli Muljayanti. Berawal dari mengantar sahabatnya saat SMP untuk latihan modelling di salah satu agency di Tasikmalaya, Meli malah diajak untuk ikut bergabung. Kepada Radar, alumnus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tersebut menceritakan pengalamannya selama menggeluti dunia modelling terutama saat dirinya mengembara di ibu kota.

“Begitu lulus SMA, saya kuliah ngambil fakultas ekonomi di UNJ. Kuliah di Jakarta memberikan banyak pengalaman karena di sana hobi modelling saya lebih tersalurkan,” kata warga Cikalang Girang ini.

Diakuinya, awal kuliah di Jakarta diniatkan untuk fokus mencari ilmu. Namun di awal tahun ketiga perkuliahan, dirinya mencoba peruntungan untuk mengikuti berbagai audisi dan membuahkan hasil.

Pengalaman menjadi model sejak SMP di Tasikmalaya cukup memberikan bekal bagi Meli  untuk bersaing dengan model ibu kota. Namun meski demikian, saat di Jakarta Meli termasuk model baru sehingga untuk bisa mendapatkan job dirinya harus memulai lagi dari nol. “Ikut audisi sana-sini. Persaingannya ketat. Tinggi badan minimal 170 cm. Itu sangat minimal. Berat badan pun harus ideal,” katanya yang memiliki tinggi badan 173 cm tersebut.

Berbagai job saat di Jakarta pernah diambil Meli. Rata-rata sebagai model fashion show. Seperti pernah menjadi model pilihan untuk event besar salah satu produk kosmetik. “Nggak nyangka banget bisa terpilih jadi salah satu modelnya karena waktu itu eksistensi saya masih sangat baru,” ujarnya yang pernah berprestasi sebagai juara 2 Mojang Jajaka 2013 ini.

Selain itu, dirinya juga pernah menjadi model dalam fashion show beberapa brand bridal serta designer ternama. “Seperti Benten dan Barli Asmara,” kata Meli.

Meski baru sebatas menyalurkan hobi, menjadi model memberikan banyak pengalaman tak terlupakan bagi Meli. Salah satunya dengan kemudahan akses bertemu bahkan berfoto bersama model-model papan atas seperti Laura Muljadi dan Paula Verhoeven. “Karena waktu itu saya sambil kuliah, jadi cukup capek bagi-bagi waktunya. Tapi terbayar dengan pengalaman luar biasa yang saya dapatkan selama itu,” katanya.

Minggu, 14 September 2014

Turut Bangga Saat Anak Berprestasi



Perjalanan menjadi seorang guru adalah sebuah pengabdian panjang. Tugasnya istimewa yakni turut mencerdaskan bangsa. Lalan Dahlan MPd mengaku bangga memiliki profesi sebagai guru yang mulanya memang bukan merupakan cita-citanya. “Tapi yang paling membanggakan adalah saat melihat anak didik berprestasi,” katanya suami dari Mastati Tapridah SPd ini.

SMPN 1 Tasikmalaya termasuk sekolah favorit yang kebanyakan siswa-siswinya memiliki prestasi baik di bidang akademik maupun non akademik. Salah satu prestasi terbaru di SMPN 1 adalah di bidang olahraga basket dimana Lalan merupakan pembinanya. “Kesuksesan ini adalah berkat dari semua pihak sekolah. Lewat doa dan juga dukungannya baru-baru ini, tim basket putra Nesatta (SMPN 1 Tasikmalaya, red) juara 1 pada kejuaraan bola basket antar SMP/SMA se-Priangan Timur di Unsilawal September 2014 lalu,” kata Lalan.

Bapak tiga anak ini mengatakan, tugas seorang guru tidak hanya transfer ilmu. Lebih dari itu, seorang guru memiliki tanggung jawab untuk memberikan nilai-nilai dasar seperti disiplin, kerja keras, dan kejujuran kepada para siswa-siswinya. “Saya pun berupaya untuk menjadi contoh dan mampu mengajak mereka untuk terus meningkatkan kualitas diri agar menjadi lebih baik,” pungkasnya.

Olahraga Harus Jadi Gaya Hidup



“Cita-cita saya sebenarnya ingin menjadi ABRI, Tapi waktu SMA salah jurusan, ngambil IPS. Jadi begitu lulus direkomendasikan orang tua untuk masuk IKIP,” kata Lalan Dahlan MPd, waka kesiswaan SMPN 1 Tasikmalaya, kemarin (13/9).

Diakui Lalan, kedua orang tuanya sangat demokratis. Dirinya dibebaskan untuk memilih kuliah di jurusan manapun. Karena melihat orang tua yang berkiprah sebagai pendidik, Lalan pun tertarik untuk mengikutinya. Begitu lulus SMA, Lalan melanjutkan kuliah di program D2 Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP Bandung dan lulus tahun 1988.

“Dari usia remaja, saya termasuk aktif dan senang bergerak, juga berolahraga. Terutama sepak bola dan bulutangkis,” kata pria kelahiran 7 Oktober 1966 tersebut.

Begitu lulus kuliah, Lalan ditugaskan sebagai guru olahraga di SMPN 6 Sukabumi sejak tahun 1989. Dua tahun kemudian baru bertugas di SMPN 1 Tasikmalaya hingga kini. Menjadi seorang guru diakui Lalan membuat dirinya banyak belajar. Mulai dari belajar cara mengajar yang efektif hingga belajar mengenal karakter anak yang berbeda-beda. “Menjadi guru sejauh ini saya rasa menyenangkan. Apalagi saya mengajar dominan di lapangan, jarang mengajar di kelas,” kata pembina ekskul basket SMPN 1 Tasikmalaya ini.

Siswa-siswi yang ditemuinya setiap tahun memiliki karakteristik berbeda-beda. Cara menghadapinya pun demikian. Terlebih beberapa tahun ke bekalang dimana anak-anak semakin aktif dan banyak tahu karena mendapatkan informasi dari kecanggihan teknologi seperti internet. “Dalam hal ini guru dituntut untuk mampu mengimbangi,” ujarnya.

Sebagai guru olahraga, Lalan selalu memberikan input kepada para siswanya untuk menerapkan gaya hidup sehat. Di dalam raga yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Oleh karena itu, dirinya meyakini semangat untuk berkembang di dunia pendidikan akan muncul jika gaya hidup sehat dijalankan. “Saya mewanti-wanti kepada anak-anak untuk sayangi fisik dengan makan makanan sehat dan bergizi, mau bergerak, baik dengan sering jalan, lari, atau bersepeda,” kata Lalan. “Sebagai guru olahraga, saya merasa bertanggung jawab untuk menyampaikan hal tersebut karena kesehatan mungkin bukan segalanya, tetapi tanpa kesehatan kita sulit melakukan apapun,” ungkapnya.

Sabtu, 13 September 2014

Gunakan Alat-alat Modern



Dalam membangun bisnis di bidang kecantikan, Hani Setiadi memberikan sentuhan berbeda terhadap Salon Finella and Beauty Care miliknya. Hani mengungkapkan Salon Finella berkonsep minimalis dan mengedepankan kecanggihan teknologi pada alat-alat kecantikannya. Selain itu, bahan-bahan seperti shampoo pun mengambil dari brand yang sudah terbukti kualitasnya. “Beberapa bahan untuk spa diambil dari Bali. Salon ini saya segmentasikan untuk mereka yang mencari kualitas,” katanya kepada Radar.

Berbagai treatment mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki tersedia. Diantaranya facial menggunakan alat modern, nail art manual tiga dimensi, laser, sampai refleksi spa. “Untuk refleksi spa mungkin di beberapa salon lain masih pakai wadah ember, di Finella Salon sudah ada wastafel kaki yang dijamin lebih higienis,” kata Hani. Sulam alis, sulam bibir, dan sulam eyeliner tetap ada. Hani menjaminkan tinta berkualitas bagi para kliennya.

Dalam membangun bisnis Finella Salon, Hani sempat memiliki beberapa tantangan. Seperti masalah sumber daya manusia. Namun hal tersebut bisa diatasi dengan mengadaptasi salon-salon profesional. “Karyawan dilatih khusus agar bisa profesional dalam melayani klien. Seperti tidak main HP saat sedang bekerja. Mereka dikasih loker untuk menyimpan barang-barangnya,” kata Hani.

Banting Setir Jadi Bisnis Salon



Terlahir dari keluarga pebisnis, Hani Setiadi termotivasi untuk mengikuti jejak orang tuanya. Karena senang dengan dunia kecantikan, dia memilih usaha di bidang tersebut dengan membuka Salon Finella yang berada di Ruko Fortuna Regency Blok B nomor 3, Jalan RE Djaelani Tasikmalaya.

Hani menceritakan Salon Finella yang baru soft opening awal September 2014 tersebut bukan usaha pertamanya. Jauh sebelum memiliki salon, Hani sempat mencoba peruntungan di bisnis fashion. “Sebelum buka salon, pernah buka butik di Surabaya. Hanya bertahan lima tahun, saya memilih untuk tutup dan sekarang ingin fokus di bidang kecantikan,” katanya ketika ditemui beberapa waktu lalu di tempat usahanya.

Banyak pelajaran yang didapat lewat usaha butik yang pernah dijalaninya. Seperti belajar manajemen perusahaan. “Sebenarnya saya juga senang fashion, tapi untuk berbisnis di bidang tersebut cukup melelahkan. Dulu saya buka butik di mall dengan biaya operasional gede, capek juga ngejar trend dan model baju terbaru,” kata Hani.

Sebelum memutuskan untuk menutup usaha butiknya, insting bisnis Hani sudah muncul. Saat itu tahun 2011 dimana sulam alis sedang menjadi tren. Tidak berpikir lama, Hani langsung ikut kursus sulam alis. “Dengan dukungan orang tua, saya juga buka praktik di Tasik. Waktu itu bolak-balik Tasik-Surabaya. Bahkan tidak jarang ada klien dari luar pulau,” kata putri dari Dedy Setiadi dan Lili ini.

Di Tasikmalaya, bisnis sulam alis yang Hani jalankan berkembang dengan baik. Tidak hanya itu, dia juga membuka jasa untuk sulam eye liner, sulam bibir, extention bulu mata, hingga whitening. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk membuka Salon Finella. “Mengapa tidak untuk dikembangkan? Apalagi antara sulam alis dan dunia salon itu sangat sejalan,” ujar Hani.

Dirinya menaruh optimis pada bisnis barunya tersebut. Karena bagi Hani, menjalankan bisnis yang sesuai dengan minat dan pasarnya jelas dipastikan prospektif. “Saya juga berencana untuk membuka jasa make up. Sekarang sudah mulai, kalau perkembangannya bagus, lantai dua mau dibikin studio,” katanya.

Senin, 08 September 2014

Keluarga Menjadi Pendukung Utama



Butik Nix Dressing Room yang baru berdiri sebulan lalu menjadi salah satu bukti keseriusan Senix Widya Octaviani dalam berbisnis fashion. Namun dirinya tidak puas hanya di bisnis fashion saja, ke depannya dia berencana untuk membuka bisnis di bidang kuliner. “Kebetulan masih ada space di samping butik. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa buka. Karena saya sudah milih kedua bidang ini, fashion dan kuliner khususnya cake,” kata Senix kepada Radar ketika ditemui di butiknya beberapa waktu lalu.

Dengan adanya tempat bisnis, klien yang datang semakin percaya dengan integritasnya. Baik untuk mengorder pakaian maupun kue. Senix menceritakan awalnya sempat kesulitan membuat kue. Karena memang dia belajar secara otodidak. “Pernah mengalami kendala. Seperti awal-awal kue yang dibuat melempem. Kalau sekarang seiring jam terbang membuat kue semakin tinggi jadi kesulitan-kesulitan seperti itu sudah bisa diatasi,” katanya. Senix berterimakasih kepada orang tuanya yang sudah memberikan dukungan terhadap bisnisnya tersebut. “Papa sebagai investor sekaligus supporter utama. Selain itu, seluruh keluarga juga terlibat. Ibu dan kakak-kakak saya turut mempromosikan produk yang saya hasilkan. Sementara saya fokus dalam membuat karya,” kata Senix.

Fokus di Bisnis Kue dan Fashion


Memasak dan mendesain pakaian adalah dua passion Senix Widya Octaviani yang kini mulai dijadikan salah satu modal dalam mengembangkan bisnis. Pemilik Nix Dressing Room yang berada di Jalan Lingkar Dadaha ini menceritakan pengalaman hingga akhirnya bisa membuka butik.

Memulai karir sebagai karyawan di perusahaan spare part, Senix Widya Octaviani mengaku kurang begitu sreg dengan status sebagai karyawan dengan pekerjaan yang begitu-begitu saja. Ingin mencari pengalaman baru, gadis kelahiran 18 Oktober 1988 pernah menjadi pengajar di Japanese Language Management Center di Bandung. Dia mengungkapkan saat itu dia bekerja sekaligus mengamalkan ilmu yang telah didapatnya di kampus. “Tidak bertahan lama juga, saya memutuskan untuk resign. Waktu itu bisa dibilang sedang galau menentukan pilihan ingin memiliki pekerjaan apa,” kata lulusan jurusan bahasa jepang Universitas Padjadjaran ini ketika ditemui beberapa waktu lalu.

Didukung oleh orang tua, Senix mencoba melakukan hal-hal yang disukainya. Salah satunya membuat kue. Saat itu tahun 2012 dimana kue rainbow sedang sangat booming. Belajar membuat kue dari buku dan internet, Senix mencoba menjual kue rainbow ke relasi terdekatnya seperti keluarga dan teman-teman. “Orang tua sangat support sekali dengan kegiatan yang saya lakukan. Memang belum begitu menghasilkan banyak income, tapi minimal saya punya aktivitas yang diharapkan bisa menjadi awal kemajuan dalam berbisnis,” kata putri ketiga dari Usman dan Popon Darmiaty ini.

Tidak hanya kue, Senix juga memiliki ketertarikan di bidang fashion. Mulanya dia hanya mendesain pakaian untuk dirinya sendiri. Namun semakin lama, beberapa rekan tertarik dan minta dibuatkan pakaian hasil karyanya. “Antara kue dan fashion jalan beriringan karena untuk kue saya membuatnya sesuai pesanan, tidak menyediakan ready stock. Kalau fashion baru menyediakan stok,” ungkapnya.

Seiring dengan perkembangan zaman, kue yang dibuat Senix pun semakin beragam. Seperti cupcakes, cheesecake, dan decorative cakes. “Buat saya membuat pakaian dan membuat kue sama-sama melibatkan jiwa seni. Keduanya memerlukan kreativitas untuk mendapatkan hasil yang bisa memuaskan konsumen,” kata Senix.

Minggu, 07 September 2014

Rasakan Hikmah Ikuti Nasihat Orang Tua


Nasihat dan saran orang tua selalu memberikan kebaikan meski awalnya mungkin tidak sesuai dengan keinginan. Hal tersebut dirasakan Purnomo Saputro MPd, guru SDN Nagarasari 7 Tasikmalaya sekaligus Instruktur Nasional Kurikulum 2013 tingkat SD. Pria kelahiran 5 Februari 1986 tersebut tidak berniat menjadi guru. Namun karena saran dari ibunya, dia memutuskan untuk sekolah di Keguruan.

Diceritakan Purnomo, sejak kecil dirinya senang dengan ilmu hitung terutama matematika. Oleh karena itu, begitu lulus SMA, dia mencoba tes di jurusan matematika di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). “Menjadi guru sebenarnya saran dari ibu saya. Dulu pernah mengikuti seleksi ke STAN, kemudian ke Undip untuk jurusan teknik sipil, dan ke UPI mengambil jurusan matematika murni, bukan pendidikan,” kata lulusan S1 PGSD UPI Tasikmalaya dan S2 Pendidikan Dasar UPI Bandung ini, kemarin (6/9).

Jalan hidup Purnomo mungkin memang untuk menjadi guru. Semua seleksi yang diambilnya tidak berhasil sehingga dia disarankan orang tuanya untuk daftar ke PGSD UPI Tasikmalaya. “Saya sama sekali tidak tahu bahwa di Dadaha ada kampus UPI,” katanya.

Diakui Purnomo, mengikuti saran orang tua memberikan hikmah besar. Dirinya tidak perlu menunggu lama untuk menjadi honorer. Hanya satu tahun menjadi guru honorer, tahun berikutnya Purnomo diangkat langsung menjadi CPNS. “Apalagi sudah banyak beredar kabar bahwa untuk menjadi PNS harus bermodal besar. Tapi alhamdulillah saya bersama kakak saya waktu testing CPNS tahun 2008 bisa bareng lulus sebagai CPNSD Kota Tasikmalaya,” ungkapnya.

Menurut SK CPNS, Purnomo ditempatkan di SDN Kudanguyah 2. Setelah satu semester, dirinya dimutasikan kembali ke SDN Nagarasari 7, sekolah saat dirinya menjadi guru honorer.

Termotivasi Untuk Terus Meningkatkan Profesionalitas



Diakui Purnomo Saputro MPd, dirinya termasuk orang yang sebenarnya tidak memiliki cita-cita yang terarah. Namun perjalanan membawanya menjadi seorang guru. Karena menjadi guru bukan cita-cita awal baginya, ketika PPL pun dirinya mengaku selalu bingung bagaimana cara mengajar yang baik.

“Saya termotivasi untuk bisa mengajar dengan baik dan profesional dimana proses mengajar tidak hanya transfer ilmu saja, tidak sekadar memindahkan materi dari buku kepada anak,” katanya.

Setelah dua tahun menjadi guru, Purnomo berkesempatan untuk mengikuti program Peningkatan Profesi Guru (PPG) selama 6 bulan. Di sana dia beserta rekan-rekan sesama guru digodok untuk mengerti bagaimana menjadi guru yang baik. Mulai dari membuat RPP, cara mengajar di kelas, hingga tahapan penilaian. “Barulah di situ ketemu bahwa mengajar itu adalah masuknya kita kepada dunia anak SD. Kita harus berfikir mau diapakan anak pada hari ini yang tentunya dihubungkan dengan kompetensi yang harus dimiliki,” kata Purnomo.

Baginya, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu mengakomodasikan semua anak dan ramah terhadap setiap individu di kelas. “Bukan generalisasi bahwa setiap anak SD itu sama karakternya,” kata Purnomo.

Minggu, 31 Agustus 2014

Manfaatkan Kemajuan Teknologi



Prestasi yang diraih Tendi memiliki level yang cukup membanggakan yakni sudah sampai ke tingkat internasional. Salah satunya dia berhasil terpilih menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam program internasional The 2013 Asia Pacific Student Forum dan berhasil meraih Juara 2 dalam pembuatan projek penuntasan kemiskinan. “Dalam program itu, para delegasi dari seluruh dunia terutama dari wilayah Asia Pacific membahas tentang isu-isu global dari berbagai perspektif, ekonomi, dan budaya,” katanya.

Para delegasi dari berbagai negara saling berdiskusi tentang permasalahan di negaranya masing-masing. Selain itu, mereka juga membuat project tentang penuntasan kemiskinan yang akan dipresentasikan di depan semua delegasi dan juri. “Saya bersama kelompok delegasi Indonesia dari berbagai Universitas seperti UI, ITB, Unpar, dan Unair membuat projek tentang ‘Free English Course for Uneducated Children in Garut Tourism Area’. Projek itu berhasil menjadi juara 2, juara 1 dari National University of Singapore,” kata Tendi.

Dalam mendapatkan informasi mengenai program-program nasional maupun internasional, Tendi memanfaatkan kemajuan teknologi internet untuk mendapatkannya. “Saya cari informasi di berbagai sumber termasuk di jejaring sosial seperti facebook. Kemudian saya ikuti prosedurnya,” katanya.