Tampilkan postingan dengan label kurikulum 2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kurikulum 2013. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 September 2014

Jangan Galau Karena Kurikulum 2013



Kurikulum 2013 yang diimplementasikan pada tahun ajaran 2014 ini cukup memberikan banyak perubahan di dunia pendidikan di Indonesia. Mulai dari sistem mengajar di dalam kelas, hingga nasib guru-guru yang mata pelajarannya ditiadakan. Aditya Sri Nugraha (25) selaku guru TIK di SMPN 2 Panumbangan mengajak warga di dunia pendidikan untuk lebih santai dalam menghadapi perubahan kurikulum. Terutama untuk mereka yang terkena imbas seperti guru TIK.

“Mata pelajaran TIK tidak lagi menjadi pelajaran di SMP maupun SMA, tapi disinergikan dengan semua mata pelajaran. Dalam artian semua mata pelajaran harus didukung oleh TIK,” katanya.

Meski para guru TIK termasuk dirinya kini ditugaskan menjadi guru prakarya namun Aditya mengaku hal tersebut memberikan banyak hikmah. “Jadi guru prakarya pun kita tetap memberi muatan positif buat siswa. Tidak hanya transfer ilmu, tapi juga mendidik,” kata Aditya. “Jadi jangan galau karena kurikulum 2013, terutama buat guru TIK. Apalagi sekarang sudah turun aturan dari Permendikbud tentang tugas guru TIK,” tambahnya.

Selasa, 16 September 2014

Pelajaran TIK Diganti Prakarya


TASIK- Dalam Kurikulum 2013, mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMP dan SMA dihapuskan karena pembelajarannya dapat diintegrasikan ke semua mata pelajaran. Ade Kurnia SKom, guru TIK SMPN 1 Tasikmalaya mengungkapkan mata pelajaran TIK sebenarnya sangat penting dan tidak boleh dianggap sebagai keterampilan mengoperasikan komputer atau alat TIK lainnya saja, tetapi juga harus dijadikan fondasi dasar untuk generasi di abad ke-21 ini.

“Kalau di SMPN 1 mungkin anak-anaknya sudah akrab dengan gadget seperti laptop, tablet, bahkan smartphone. Sebagian besar sudah mampu mengoperasikan perangkat lunak dasar seperti microsoft word. Yang dikhawatirkan adalah siswa yang kurang akrab dengan fasilitas TIK, kesenjangan pasti akan semakin nampak,” kata Ade ketika ditemui Sabtu (14/9) lalu.


Ade mengungkapkan pelajaran TIK juga sebenarnya tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana cara mengoperasikan alat-alat TIK, tetapi juga mengajarkan mengenai aturan dan etika dalam menggunakannya. “Pendidikan bukan sekedar mentransfer ilmu, tapi juga mendidik. Dikatikan dengan mata pelajaran TIK, ketika pelajarannya masih ada dulu, kami sebagai guru TIK juga menerangkan mengenai etika berinternet,” katanya.

Namun karena peraturan sudah diberlakukan, Ade berkewajiban untuk mengikutinya. Sesuai dengan aturan pula kini para guru TIK termasuk dirinya menjadi guru prakarya. “Waktu itu ada pelatihan sekitar seminggu bagi para guru yang bertugas mengajar prakarya. Kami belajar mengenai empat bidang yang ada dalam prakarya seperti pengolahan, kerajinan, rekayasa, dan budidaya,” kata Ade.

Erwin Suryadi, guru TIK SMPN 1 Tasikmalaya yang kini menjadi guru prakarya mengatakan tugas barunya tersebut cukup menantang. “Selain pemberian materi, ada pula praktik. Yang baru-baru ini dikerjakan adalah pembuatan kerajinan dari tanah liat,” katanya.

Dalam pelatihan yang diikuti Erwin beberapa bulan lalu, pelajaran prakarya bisa disesuaikan dengan keadaan alam dan geografis masing-masing daerah. “Dari empat bidang yang ada, kita bisa memilih yang memungkinkan untuk dilakukan. Karena SMPN 1 berasa di kawasan kota, pemilihan materi prakarya lebih ke kerajinan tangan, kalau di daerah yang masih banyak lahan luas dan pertanian rata-rata melakukan budidaya,” kata Erwin.

Siswa Diajari Mengeksplorasi Kemampuan Diri




TASIK- Implementasi kurikulum 2013 di sekolah telah memasuki bulan ketiga pada tahun ajaran 2014. Guru maupun siswa mengaku masih beradaptasi dengan diterapkannya kurikulum tersebut. Seperti yang diakui Kurniawati Sriwulani, waka kurikulum SMPN 5 Tasikmalaya. Dari yang semula peranan guru sebatas menjelaskan materi di depan kelas dan memberi tugas, kini berubah fungsi. Guru hanya menjadi fasilitator dan dinamisator di dalam kelas.

“Karena belum punya pengalaman banyak dengan Kurikulum 2013, jadinya saya sebagai guru mengalami gegar budaya. Masih belum luwes melakukan pembelajaran dengan pendekatan scientific, masih terkungkung dengan belajar hanya terjadi di dalam kelas. Padahal lingkungan sekolah dan masyarakat pun bisa menjadi wahana belajar,” kata Wulan, kemarin (14/9).

Di dalam proses belajar mengajar, siswa diminta aktif mencari hal baru yang umumnya bersumber dari internet maupun buku panduan lain disamping buku dari pemerintah. Wulan mengungkapkan beban belajar siswa kini mungkin tampak berat karena belum terbiasa. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban guru untuk selalu membangun kecapakannya dalam memberikan pengalaman belajar yang lebih baik dan bermutu. “Meski kurikulum 2013 berbasis pada keaktifan siswa, tapi tidak berarti tugas guru jadi lebih ringan. Justru guru sebagai fasilitator harus pandai memancing agar siswa lebih aktif. Selain itu, guru juga harus menilai perkembangan siswa secara individual dengan tiga aspek yaitu keterampilan, pengetahuan, dan sikap,” katanya.

Aurel Abigail Azwar, siswa kelas 7C SMPN 5 Tasikmlaya mengungkapkan dirinya kini diajari untuk mencari sendiri materi yang sedang dipelajari. “Tidak bisa santai, belajarnya harus lebih giat lagi karena tugasnya juga banyak,” ungkapnya.

Hal serupa juga dirasakan Salma Khaira Naza dan Najwa Syadzwina kelas 7A. “Sekarang belajarnya lebih sering berkelompok, mencari data-data lewat buku dan internet, terus mempresentasikan hasilnya di depan kelas,” ujar Salma.

Sabtu, 13 September 2014

MKK SMP Gelar Seminar Penilaian Autentik Kurikulum 2013




TASIK- Musyawarah Kerja Kepala SMP Kota Tasikmalaya menggelar Seminar Penilaian Autentik Kurikulum 2013 di SMAN 3, kemarin (12/9). Diikuti oleh 120 kepala dan waka akademik SMP negeri dan swasta se-Kota Tasikmalaya, seminar ini menjelaskan tentang penilaian otentik yang memiliki relevansi terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai tuntutan kurikulum 2013.

Kristanto, narasumber yang merupakan konsultan pendidikan mengungkapkan penilaian otentik merupakan pengukuran yang signifikan atas hasil belajar peserta didik yang meliputi tiga aspek yakni sikap, keterampilan, dan pengetahuan. “Sesuai dengan namanya penilaian otentik itu pengukuran atau pengujian yang asli, nyata, dan valid,” katanya.

Penilaian otentik dalam implementasi kurikulum 2013 mengacu kepada penilaian kompetensi sikap melalui observasi, keterampilan melalui penilaian kinerja, dan kompetensi melalui tugas praktik, projek, maupun portofolio.

Menurut Dadang Abdul Patah MPd, wakil ketua MKK SMP Kota Tasikmalaya, tujuan digelarnya seminar tersebut adalah untuk meningkatkan kompetensi kepala sekolah dalam teknik penilaian. “Nantinya perwakilan setiap SMP yang datang akan mensosialisasikan apa yang didapat kepada seluruh guru di lingkungan masing-masing,” kata kepala SMPN 3 Tasikmalaya tersebut.

Kepala SMPN 19 Tasikmalaya, Ade Sumirat MPd mengungkapkan lewat seminar tersebut diharapkan seluruh kepala dan wakasek akademik yang ikut dapat meningkatkan wawasan dan strategi tentang cara-cara penilaian autentik sesuai dengan kurikulum 2013.

Sementara Wakil Walikota Tasikmalaya Ir H Dede Sudrajat MP yang membuka acara tersebut mengungkapkan para akademisi yang memiliki kendala dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 jangan sampai melupakan tujuan pendidikan yang paling dasar yakni menjadikan siswa sebagai pribadi berkarakter, beriman, dan bertaqwa. “Coba mulai diperhatikan hal-hal kecil yang mungkin terlupakan. Seperti meniatkan hati sebelum belajar mengajar, makan makanan sehat, di sekolah saling memberikan salam, sampai menjaga kebersihan di lingkungan sekolah,” katanya.

Rabu, 10 September 2014

Gugus 4 Kecamatan Cihideung Gelar Workshop Evaluasi Kurtilas




TASIK- Gugus 4 Kecamatan Cihideung menggelar workshop mengenai evaluasi kurikulum 2013 di kompleks SDN Gunung Pereng, kemarin (9/9). Kegiatan yang akan digelar sampai Jumat (11/9) tersebut diikuti oleh perwakilan guru dari 8 sekolah yang berada di lingkungan gugus 4.

Purnomo Saputro, instruktur nasional sekaligus pendamping kurikulum 2013 mengungkapkan ada 44 gugus di Kota Tasikmalaya dan masing-masing rutin menggelar evaluasi. Hal tersebut bertujuan untuk pendampingan para guru dalam menerapkan kurikulum 2013 dalam kegiatan belajar mengajar. “Masih banyak kendala yang dihadapi oleh para guru. Seperti pembuatan RPP, keterlambatan buku untuk siswa, sampai perihal penilaian,” katanya saat break.

Workshop tersebut bertujuan untuk menghasilkan perbaikan dalam melaksanakan kurikulum 2013 ke depannya. “Guru-guru yang ikut di sini mengemukakan kesulitan-kesulitan yang didapat saat mengajar, baru kemudian dipecahkan bersama-sama dengan konsep sharing,” kata Purnomo.

Kepala SDN Gunung Pereng 1, Hj Oon mengungkapkan beberapa kendala yang dihadapi dalam penerapan kurikulum 2013. Salah satunya adalah buku yang belum datang. “Untuk anak SD karena belajarnya secara tematik, satu tema itu satu buku dan hanya digunakan satu bulan. Bulan berikutnya temanya ganti. Sekarang untuk tema bulan September bukunya belum datang. Jadi seolah-olah kita harus lari dulu baru di tengah-tengah pakai sepatu,” katanya.

Diakui Hj Oon, untuk masalah buku memang bisa diantisipasi dengan berbagai hal. Salah satunya mencari materi dari internet berdasarkan silabus. “Yang paling utama adalah kompetensi inti dan kompetensi dasar bisa tercapai jadi ilmunya tersampaikan kepada anak-anak,” kata Hj Oon. “Makanya guru memang harus benar-benar kreatif dalam mengajar ditengah keterbatasan dan keterlambatan sarana seperti sekarang,” ungkapnya. (lsk)

Selasa, 09 September 2014

MKK Gelar Workshop Manajemen Perubahan Sekolah



TASIK- Musyawarah Kerja Kepala (MKK) SMP, SMA, SMK Kota Tasikmalaya menggelar workshop pimpinan sekolah dengan tema Manajemen Perubahan Sekolah Dalam Rangka Implementasi Kurikulum 2013, di Bale Kota, kemarin (8/9). Dalam workshop tersebut, dua dosen IPB Ir Itasia Dina Sulvianti MSi dan Dr H RP Agus Lelana SpMP Msi menjadi narasumber.

Diungkapkan H Agus, kurikulum 2013 dapat menjadi wahana pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab pimpinan dan segenap warga sekolah untuk turut menyukseskan implementasi kurikulum tersebut.

Dalam workshop tersebut, H Agus menyampaikan berbagai tips mengenai cara untuk membuat kurikulum 2013 berhasil memajukan dunia pendidikan. Diantaranya berbagi pengalaman memimpin perubahan sekolah, strategi perubahan sekolah, serta melakukan simulasi perubahan sekolah. “Ada lima aspek yang perlu digarap dalam proses perubahan sekolah yaitu akhlak mulia, kompetensi, kepekaan sosial, kepedulian lingkungan, dan jiwa kewirausahaan,” katanya.

Perubahan sekolah yang berkelanjutan harus mengena pada lingkup individu dan organisasi. Untuk mengefektikan perubahan sekolah, pimpinan dan warga sekolah harus mampu menstrategikan peran guru sebagai teladan secara individu maupun sebagai bagian dari teamwork organisasi sekolah. “Jadi pada intinya, manajemen perubahan sekolah merupakan proses perbaikan yang berkelanjutan,” katanya.

Salah satu panitia workshop, Dadang Abdul Patah lewat workshop ini diharapkan para kepala sekolah mampu meningkatkan kompetensi manajerial serta mendapatkan bekal untuk mengelola sekolah secara lebih efektif dan inovatif. “Mudah-mudahan upaya kami ini dapat membantu mewujudkan tujuan pendidikan yakni mencetak siswa yang memiliki iman dan taqwa, terampil, cerdas, dan berakhlakul karimah,” kata Dadang.

Minggu, 07 September 2014

Guru TIK Kini Jadi Guru Prakarya



Penerapan kurikulum 2013 dalam sistem pendidikan di Indonesia memberikan beberapa dampak. Terutama bagi guru PNS mata pelajaran bahasa inggris jenjang SD dan guru PNS mata pelajaran TIK tingkat SMP dan SMA. Aditya Sri Nugraha SPd, guru TIK SMPN 2 Panumbangan merasakan hal tersebut. Sejak diintegrasikannya TIK dengan semua mata pelajaran, Aditya kini ditugaskan untuk mengajar mata pelajaran prakarya. “Sebelum kurikulum 2013 mulai diimplementasikan pada tahun ajaran 2014 ini, guru PNS TIK rata-rata bertugas jadi guru pelajaran Prakarya. Saya sempat ikut pelatihan selama 5 hari,” katanya ketika ditemui di Jalan Mayor Utarya, kemarin (7/9).

Diungkapkan pria 26 tahun tersebut, awalnya dia dan rekan-rekan di MGMP cukup galau. Namun karena aturan pemerintah tidak bisa diganggu gugat, dia harus kembali belajar mengenai ilmu prakarya. “Apapun peraturan pemerintah saya yakin tujuannya pasti baik. Begitu juga dengan kebijakan yang mengatur tentang mapel TIK. Secara garis besar mengerti bagaimana mata pelajaran prakarya, apalagi kalau sudah kumpul dengan sesama guru yang diberi tugas serupa,” kata Aditya.

Mata pelajaran prakarya memiliki empat bidang yaitu budidaya, pengolahan, kerajinan, dan rekayasa. Lulusan UPI Bandung program studi pendidikan komputer kini harus kreatif dalam menggali berbagai informasi dan pengetahuan untuk bekal mengajar pelajaran prakarya. “Pas ikut pelatihan diberikan buku panduan untuk guru, tapi sayangnya tidak semua kebagian. Sebagian lagi diminta untuk download sendiri di internet. Tidak dipungkiri, saya lebih banyak mengandalkan internet untuk mendapat inspirasi dalam memberikan materi-materi prakarya,” ungkapnya.

Kamis, 04 September 2014

Distributor Ancam Tarik Buku



TASIK- Buku kurikulum 2013 dari pemerintah belum diterima 100 persen oleh distributor di Gudang Buku Jalan Leuwidahu. Sejauh ini, buku yang sudah datang sekitar 90 persen. Hal tersebut diungkapkan Arif, salah satu anggota tim dari PT Antar Surya Jaya yang memenangkan tender untuk mencetak dan mendistribusikan buku kurtilas untuk SMP, SMA, dan SMK untuk rayon Tasikmalaya.

“Buku yang datang dari percetakan pasti langsung kami sebarkan ke SMP, SMA, dan SMK baik di Kota maupun Kabupaten Tasik sesuai dengan armada yang tersedia,” katanya ketika ditemui di Gudang Buku, Kamis (4/9).

Namun diungkapkan Arif, beberapa sekolah yang sudah menerima buku ada diantaranya yang belum membayar. Alasannya beragam. Salah satunya karena buku yang diterima pihak sekolah kurang beberapa eksemplar dari yang telah didata. “Setelah dihitung, persentase sekolah yang sudah bayar 31 persen dihitung dari nilai buku yang sudah dikirim. Pihak sekolah (yang belum membayar, red) inginnya buku harus lengkap dulu baru mereka mau bayar,” katanya.

Arif beserta tim mengancam buku akan ditarik kembali jika sekolah belum membayar sesuai dengan tempo yang ditentukan. “Tidak peduli bukunya sudah dicap sekolah atau belum. Sampai segitunya, padahal tinggal bayar saja. Buku kalah sama tahu bulat,” ungkapnya.

Guru TIK Wajib Bimbing Minimal 150 Siswa


TASIK- Implementasi kurikulum 2013 membuat pelajaran TIK di tingkat SMP dan SMA kini diintegrasikan dengan semua mata pelajaran. Hal tersebut diungkapkan wakasek kurikulum SMPN 5 Tasikmalaya, Kurniati Sriwulani MPd. “Sekarang pembelajaran TIK secara tidak langsung ada di setiap mata pelajaran dimana penggunaan alat-alat seperti laptop maupun tablet sudah menjadi bagian dari pembelajaran di kelas. Apalagi dengan adanya pendekatan scientific menggunakan anak bisa presentasi dengan power point,” katanya, beberapa waktu lalu.

Mengenai peran guru TIK kini sama dengan guru BK dimana guru harus membimbing minimal 150 siswa untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang teknologi informasi. “Guru TIK bisa menjadi tempat konsultasi mengenai berbagai hal tentang teknologi, khususnya yang dijadikan sarana penunjang belajar. Misalnya cara membuat tampilan power point yang menarik untuk presentasi,” katanya.

Hal serupa terjadi di SMP At-taufiq Al-islamy yang berada di Jalan Batara Tawang. Kepala SMP At-taufiq Al-islamy Dea Widiawati SE menyayangkan dengan ditiadakannya mata pelajaran TIK. “ Di sini pelajaran TIK menjadi ekskul wajib karena bagaimanapun penguasaan TIK untuk siswa itu sangat penting,” katanya.

Dijelaskan Dea, siswa-siswi SMP At-taufiq belajar TIK dengan bimbingan yang ketat dari para gurunya. “Bimbingan seperti itu juga kami harapkan bisa memaksimalkan pembelajaran TIK, contohnya difokuskan untuk mencari materi mata pelajaran tertentu, sehingga penggunaan TIK untuk hal yang kurang penting bisa diminimalisir,” kata Dea.

Siswa Pakai Buku dari Penerbit Lain Sebagai Referensi Tambahan



TASIK- Meski pemerintah menyediakan buku kurikulum 2013 gratis, beberapa sekolah menggunakan buku lain sebagai sumber untuk melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM). Salah satunya di SMAN 1 Tasikmalaya. “Kurikulum 2013 menuntut anak untuk lebih banyak menggali informasi. Buku lain selain dari pemerintah dipakai untuk referensi lain. Tidak hanya itu, siswa-siswi di sini juga menggunakan media internet untuk memperkaya pengetahuan pada setiap mata pelajaran,” kata Pipin Aripin, kepala SMAN 1 Tasikmalaya pada 4 September lalu.

Mengenai buku referensi lain, Pipin mengungkapkan pihak sekolah tidak mewajibkan siswa-siswi untuk membelinya. “Tidak wajib,” katanya.

Hal serupa diungkapkan Sutarna SAg, pimpinan pondok pesantren At-taufik Al-islamy yang menaungi SMP IT At-taufik yang berada di Jalan Batara Kecamatan Tawang. “Kami menggunakan buku dari pemerintah dan juga buku dari penerbit lain. Saat KBM sudah berlangsung Agustus lalu, buku dari pemerintah masih belum datang, jadi mau tidak mau menggunakan buku lain karena buku tetap menjadi salah satu unsur penting dalam berlangsungnya KBM,” katanya.

Bahkan hingga saat ini, beberapa buku mata pelajaran untuk kelas 7 dan 8 belum datang. Diantaranya buku mata pelajaran bahasa indonesia, PKN, IPS, Seni Budaya untuk kelas 7 dan buku mata pelajaran matematika, IPA, dan PJOK untuk kelas 8. “Mudah-mudahan secepatnya bisa didistribusikan,” kata Sutarna.

Begitu juga dengan yang diberlakukan di SMK Tri Karya Husada, Jalan Terusan BCA. “Pakai buku dari penerbit lain juga. Alasannya biar siswa lebih banyak sumber ilmu untuk menambah wawasan,” kata Gugi Gerindra, kepala SMK Tri Karya Husada.

Pandu Purnomo, siswa SMAN 1 Tasikmalaya mengungkapkan dirinya membeli buku referensi lain karena merasa penting mendapatkan informasi dari sumber lain. “Sebenarnya nggak harus beli, gimana kitanya saja. Kalau merasa buku itu penting ya dibeli. Tapi karena menurut saya semua buku itu penting dan juga dibutuhkan sebagai pelengkap, makanya saya membeli buku lagi meski sudah ada buku gratis dari pemerintah,” ungkapnya.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Guru Agama Pakai Buku dari MGMP


TASIK- Buku mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti kurikulum 2013 untuk tingkat SMP belum ada. Oleh karena itu, beberapa guru PAI dan Budi Pekerti menggunakan buku paket dari MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) PAI  Kota Tasikmalaya. “Sambil nunggu buku fisiknya datang, kami menggunakan buku fotokopian,” kata Basar Ahmad Nurdin SPdI, guru PAI SMPN 3 Tasikmalaya, kemarin (29/8).


Menurut Basar, mengenai materi PAI tidak begitu banyak yang berbeda antara Kurikulum Terpadu Satuan Pendidikan (KTSP) dan kurikulum 2013. Yang membedakan adalah teknis mengajar dan penilaian. “Memang ada sedikit perbedaan, kalau kurikulum 2013 pembahasannya lebih luas dan menitikberatkan pengamatan siswa pada proses belajarnya. Juga, kalau dulu kan namanya Pendidikan Agama Islam, sekarang nama mapelnya Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Itu saja,” katanya.

Ketiadaan buku PAI kurikulum 2013 hingga saat ini bagi Basar bukan hambatan. Dirinya berinisiatif untuk mengambil referensi dari berbagai sumber. Termasuk internet. “Dalam kurikulum 2013, siswa harus menggali informasi dan data sebanyak-banyaknya. Internet pasti diperlukan, tapi itu tidak menjadi masalah. Di SMPN 3 sudah ada koneksi internet. Jadi siswa tinggal mengakses lewat gadget masing-masing,” katanya.

Beberapa Sekolah Belum Bayar Buku Kurtilas



TASIK- Buku kurikulum 2013 hingga kini masih dalam proses pendistribusian. Hampir semua sekolah sudah mendapatkan buku yang diperlukan. Terutama yang berada di Kota Tasik. Menurut pantauan, berdus-dus buku telah datang lagi kemarin (29/8). “Sampai tadi pagi tercatat telah datang empat truk pengangkut buku dan sekarang sedang didistribusikan. Khususnya ke beberapa sekolah di kabupaten Tasik,” kata Helmi, salah satu tim dari PT Antar Surya Jaya yang memenangkan tender untuk mencetak dan mendistribusikan buku kurtilas untuk SMP, SMA, dan SMK untuk rayon Tasikmalaya.

Namun, Helmi mengungkapkan ada beberapa sekolah yang belum membayar buku kurikulum 2013. “Sebagian sudah menjanjikan tempo. Sebagian ada juga yang komplen, yang mungkin alasan mereka adalah sebab dari kekurangan kami. Seperti ada sekolah yang minta dikirim 2000 buku, tapi ternyata setelah dikirim bukunya kurang 10. Ada juga yang sudah deal, tapi beberapa hari kemudian mereka komplen buku ternyata kurang. Kami cukup dilema,” akunya. Dia berharap pihak sekolah yang belum membayar buku untuk segera melunasinya.

Ditemui terpisah, Asep Rusyadi MPd kepala SMPN 5 Tasikmalaya mengungkapkan mekanisme pengadaan buku pelajaran kurikulum 2013 terdapat dari dua sumber yakni dana alokasi khusus dan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). “Kementrian Pendidikan RI telah menetapkan 5 persen dana BOS dialokasikan untuk pengadaan buku kurikulum 2013,” katanya, kemarin (29/8).

Perihal buku yang dibeli memang harus buku yang dikeluarkan oleh Kemendikbud. “Di SMPN 5 semua siswa sudah mendapatkan buku seluruh mata pelajaran kecuali PAI (Pelajaran Agama Islam) dan bahasa sunda,” kata Asep.

Jumat, 29 Agustus 2014

Buku Kurikulum 2013 Baru 85 Persen Terdistribusi di Tasikmalaya



TASIK- Buku kurikulum 2013 untuk jenjang SMP, SMA, dan SMK negeri maupun swasta baru 85 persen terdistribusi di daerah kota dan kabupaten Tasikmalaya. Hal tersebut diungkapkan Helmi, salah satu tim dari PT Antar Surya Jaya yang memenangkan tender untuk mencetak dan mendistribusikan buku kurtilas untuk SMP, SMA, dan SMK untuk rayon Tasikmalaya. “Gudang buku yang ada di Tasik ini adalah kepanjangan tangan dari PT Antar Surya Jaya. Buku yang sudah di-drop segera kami antar. Namun beberapa waktu lalu kami pernah mendapatkan hambatan saat libur bulan puasa, ada beberapa sekolah yang tutup jadi buku kami drop lagi ke gudang,” katanya ketika ditemui di gudang buku Jalan Leuwidahu, kemarin (28/8). “Sekitar 15 persen lagi memang belum datang,” kata Helmi.

Sekolah-sekolah yang telah mendapatkan buku diakui Helmi ada beberapa yang belum melakukan transaksi pembayaran. “Sekitar 70 persen belum pada bayar,” akunya.

Buku yang didistribusikan yakni 9 mata pelajaran untuk tingkat SMP dan 8 mata pelajaran untuk tingkat SMA dan SMK. “Buku kejuruan untuk SMK sejauh ini belum datang. Begitu juga untuk buku mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti,” katanya.

Dea Widiawati, kepala SMP At-taufik mengungkapkan buku menjadi sarana yang penting dalam proses belajar mengajar di kelas. “Selain menggunakan buku dari pemerintah, saya juga mengambil referensi dari buku lain termasuk buku kurikulum sebelumnya untuk perbandingan saat mengajar,” kata Dea.

Rabu, 27 Agustus 2014

Penilaian Kurtilas Online Mulai Disosialisasikan



TASIK- Guru SMPN 3 Tasikmalaya mengikuti sosialisasi teknik penilaian kurikulum 2013 (kurtilas) online, Sabtu (16/8) lalu. Dadang Abdul Patah, kepala SMPN 3 mengatakan sistem kurikulum 2013 merangsang murid untuk lebih aktif dan kreatif dalam belajar sekaligus menuntut kerja guru lebih keras. Salah satunya berkaitan dengan sistem penilaian dimana nilai harus dideskripsikan.

“Tentunya butuh waktu yang lama dan lebih ribet. Teknik penilaian kurikulum 2013 secara online ini diharapkan bisa mempermudah para guru untuk memberikan nilai,” katanya kepada Radar.

Penilaian adalah salah satu proses penting dalam mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik yang seharusnya tidak perlu diambil pusing. Terlebih dengan menggunakan sistem online. “Untuk teknisnya, nanti semua guru secara bertahap akan diberikan sosialisasi. SMPN 3 menjadi pilot project dari pembuat sistem online yakni dari simponiku.com, sebuah web yang menyajikan informasi dan menitikberatkan pada pendataan terintegrasi sehingga bisa diakses kapanpun, dimanapun, transparan, dan up to date,” kata Dadang.

Diungkapkannya, memang dengan disosialisasikannya teknik penilaian kurikulum 2013 ini menuntut guru untuk lebih melek teknologi. “Mampu mengoperasikan teknologi sekarang sudah jadi tuntutan zaman. Saya optimis penilaian dengan teknik online bisa membantu para guru,” katanya.

Guru SMPN 3 Tasikmalaya Mulai Penilaian Online


TASIK- Guru-guru di SMPN 3 Tasikmalaya mulai menerapkan penilaian online yang sesuai dengan kurikulum 2013 setelah mendapatkan sosialisasi beberapa waktu lalu. Hal tersebut diungkapkan kepala SMPN 3 Tasikmalaya Dadang Abdul Patah MPd. “Ya, alhamdulillah sebagian sudah mencoba penilaian secara online. Kita belajar sambil berjalan saja,” katanya, kemarin (26/8).


Penilaian setiap mata pelajaran meliputi kompetensi pengetahuan, kompetensi keterampilan, dan kompetensi sikap. Skala yang digunakan pun tidak lagi 0 sampai 100 tetapi skala 1 sampai 4 seperti penilaian di Perguruang Tinggi. “Banyak guru yang mengeluh dengan juknis penilaian pada kurikulum 2013. Oleh karena itu, adanya sistem penilaian online ini diharapkan bisa memudahkan,” kata Dadang.

Sejauh ini, sosialisasi penilaian online terjadwal di setiap SMP dan SMA di Kota Tasikmalaya baik negeri maupun swasta. Dengan adanya penilaian online memang menuntut guru untuk tidak gaptek. “Guru harus melek internet, tahu cara mengoperasikan gadget. Semua harus mencoba berupaya mengaplikasikan penilaian online dalam implementasi kurikulum 2013 ini secara bertahap sampai bisa,” katanya. “Sekolah juga dituntut untuk menyediakan sarana berupa infokus atau proyektor di setiap ruang kelas agar KBM bisa berjalan lebih efektif dan selaras dengan tujuan kurikulum 2013,” tambah Dadang.

Selasa, 26 Agustus 2014

SMK Galunggung Andalkan Silabus



TASIK- Karena buku kurikulum 2013 untuk mata pelajaran keguruan masih belum datang, para guru di SMK Galunggung mengandalkan silabus dalam memberikan materi kepada para siswa. Irma Rahmawati SPd, waka kurikulum SMK Galunggung mengungkapkan silabus yang didapat merupakan hasil download dari internet. “Buku panduan guru maupun buku pegangan siswa untuk mapel kejuruan sama sekali belum ada. Untuk mengantisipasinya kami mempelajarinya lewat silabus,” katanya, kemarin (25/8).

Dalam silabus sudah terdapat standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator, serta penilaian. Mengenai materinya, guru mengambil dari berbagai referensi seperti dari buku Kurikulum Terpadu Satuan Pendidikan (KTSP) maupun dari internet. “Menghadapi perubahan kurikulum, guru harus melek internet agar bisa gerak cepat dan mencari tahu mengenai berbagai hal berkaitan dengan kurikulum 2013. Kalau tidak begitu, susah dalam mengajar,” kata Irma.

Pelatihan kurikulum 2013 yang diikuti para guru pun, menurut Irma, terbilang sebentar dan terkesan dipadatkan. Sehingga guru harus kembali belajar di lapangan. “Saya pribadi mengantisipasinya dengan banyak membaca di internet, juga ngobrol-ngobrol dengan sesama guru agar tujuan dari kurikulum 2013 itu sendiri bisa tercapai,” katanya.

Guru Dituntut Kreatif Dalam Mengajar



TASIK- Dalam implementasi kurikulum 2013 (kurtilas), guru dituntut untuk lebih kreatif saat mengajar. Hal tersebut diungkapkan kepala SD Gunung Pereng 1 Tasikmalaya, Hj Oon SPd. “Karena penerapan kurtilas ini menekankan agar keingintahuan anak muncul dan mereka mau belajar sendiri,” katanya ketika ditemui di kantornya, Jalan Cilembang, kemarin (25/8).

Meski diakui Hj Oon guru di SD Gunung Pereng belum semua memahami kurikulum 2013, namun sebagai kepala sekolah dirinya seringkali berdiskusi dengan para guru. Terlebih, dirinya baru saja pulang mengikuti pelatihan pendampingan kurikulum 2013 beberapa waktu lalu di Cirebon. “Dalam pelatihan tersebut, kepala sekolah harus turut mengikuti perkembangan para guru di sekolah dalam menjalankan kurikulum baru ini,” katanya.

Hj Oon ditunjuk untuk mewakili gugus dalam pelatihan tersebut dan rencananya dalam waktu dekat akan menggelar workshop untuk sekolah-sekolah yang masih satu gugus dengan SD Gunung Pereng seperti SD Gunung pereng 2, 3, 4, dan 5, SD Gunung Koneng, SD Cieunteng 4, dan SD Penabur. “Dari pelatihan yang saya dapat, ternyata memang kreativitas guru SD dalam mengajar menjadi kunci dalam membuat rasa ingin tahu siswa lebih besar,” kata Hj Oon.

Imas Masriah SPd, walikelas 1 A SD Gunung Pereng 1 mengungkapkan dirinya mengaku masih beradaptasi dengan kurikulum baru. Terlebih kini pembelajaran dilakukan secara tematik. “Kendalanya anak susah bicara, keberaniannya masih kurang. Mungkin karena masih kelas satu, jadi masih ada yang malu-malu,” katanya. “Memang kita sebagai guru harus kreatif dalam memancing anak agar mau bertanya. Misal datang ke kelas membawa payung dan kacamata hitam. Beberapa anak pasti bertanya kenapa, nah itu bisa menjadi awal yang bagus untuk menjelaskan mengenai tema musim panas,” tambah Imas.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Guru Masih Mengandalkan CD


TASIK- Buku kurikulum 2013 yang belum diterima pihak sekolah seperti buku mata pelajaran kejuruan diantisipasi dengan berbagai cara oleh guru. Selain mendownload dan memfotokopi, beberapa guru juga mengandalkan CD dalam belajar. Seperti yang dilakukan para guru di SMK Tri Karya Husada, Jalan Terusan BCA Kota Tasikmalaya.

“Saat mengikuti pelatihan kurikulum 2013, guru mendapatkan CD yang isinya soft file mata pelajaran. Di sini masih menggunakan CD dan proyektor. Jadi anak-anak tinggal mencatat,” kata Gugi Gerindra, kepala SMK TKH, kemarin (22/8).

Kasi kurikulum pada bidang pendidikan menengah Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Drs H Tedi Setiadi MPd mengungkapkan sambil menunggu datangnya buku kurikulum 2013, guru bisa mempergunakan buku yang relevan dan silabus. “Buku untuk kejuruan SMK memang terlambat dibuat karena isinya disesuaikan agar semakin mendekati kebutuhan industri. Di tengah keterbatasan sarana seperti buku, guru dituntut untuk kreatif dalam mengajar. Misalnya mengambil sumber dari buku ataupun hasil download dari internet yang isinya sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan,” kata Tedi ketika ditemui beberapa waktu lalu. “Saya sarankan pihak sekolah juga bisa mendatangi Gudang penyimpanan buku di Leuwidahu untuk mengecek sudah ada atau belumnya buku yang dibutuhkan,” tambahnya.

SD Swasta Masih Ada Pelajaran Bahasa Inggris



TASIK- Seiring diberlakukannya kurikulum 2013, mata pelajaran bahasa inggris di SD negeri ditiadakan. Namun lain halnya dengan di SD swasta. Bahasa inggris masih menjadi bagian dari mata pelajaran. Seperti di SD Baiturrahman Jalan RE Martadinata.

Anasah Qodarudin, kepala SD Baiturrahman mengungkapkan siswa-siswi SD Baiturrahman mulai kelas 1 sampai kelas 5 masih belajar bahasa inggris. “Di sini sampai kelas 5 karena sekolah baru berdiri 5 tahun lalu, belum ada kelas 6. Bagi kami, bahasa inggris itu adalah salah satu mata pelajaran vital yang harus diajarkan kepada siswa. Belajar bahasa inggris lebih dini itu kami yakini lebih baik, terlebih di zaman sekarang, dimana persaingan sudah luas dan global,” katanya.

Karena memahami pentingnya bahasa inggris, peraturan SD Baiturrahman pun memberlakukan hari bahasa. Hari Senin anak-anak wajib menggunakan bahasa Indonesia, hari Selasa menggunakan bahasa Arab, hari Rabu berbahasa Sunda, hari Kamis berbahasa Inggris, dan hari Jumat berbasa Indonesia.

Netti Natia, salah satu orang tua siswa SD Baiturrahman mengatakan mempelajari bahasa inggris di tingkat dasar penting sekali untuk bekal saat masuk SMP. “Yang paling utama adalah mempersiapkan diri untuk bekal bergaul di dunia internasional. Bagaimana bisa berbaur dengan peradaban asing apabila bahasa inggrisnya saja tidak kuat,” kata Netti.

Dirinya merekomendasikan bagi orang tua yang anaknya tidak mendapatkan pelajaran bahasa inggris di sekolah, untuk memberikan les atau kursus bahasa inggris agar anak bisa belajar lebih awal. “Belajar bahasa inggris tidak bisa instan, harus secara berkesinambungan. Kalau di sekolah tidak ada pelajaran bahasa inggris, anak bisa dimasukkan ke tempat les bahasa inggris untuk mengejar ketinggalan,” katanya.

SLB Insan Sejahtera Masih Menggunakan Buku KTSP




TASIK- Kurikulum 2013 tidak hanya diimplementasikan di sekolah umum, tetapi juga di Sekolah Luar Biasa (SLB). Eutik Wartini, kepala SLB Yayasan Insan Sejahtera mengungkapkan beberapa guru SLB di sekolahnya sudah mengikuti pelaksanaan pelatihan kurikulum 2013. Namun implementasinya sejauh ini belum begitu berbeda dengan pembelajaran menggunakan Kurikulum Terpadu Satuan Pendidikan (KTSP). “Salah satunya karena kendala sarana. Buku kurikulum 2013 belum ada yang sampai satu pun. Bulan Juni lalu saat saya ikut pelatihan, ada wacana bahwa buku mau sampai sebelum KBM tahun ajaran baru dimulai. Tapi sampai sekarang belum ada, buku masih pakai kurikulum lama,” ungkapnya ketika ditemui di sekolahnya, Jalan Bantar, kemarin (14/8).

Ketika ditemui sedang mengajar, Endang Rubiandini guru SD kategori C1 (tuna grahita sedang) SLB Yayasan Insan Sejahtera mengungkapkan perubahan kurikulum tidak begitu berdampak bagi para siswa. Karena sebelum menggunakan kurikulum 2013, pembelajaran siswa tuna grahita sudah ditekankan pada budi pekerti, kemandirian, dan kemampuan sosialisasi, tidak pada akademis. “Belajar menggunakan buku lama pun tidak begitu bermasalah. Karena di sekolah, anak-anak khususnya tuna grahita belajar untuk mandiri seperti bisa memotong kuku sendiri, tidak ditekankan pada pencapaian akademis. Kecuali untuk tuna rungu dan tuna netra,” kata Endang.

Hal serupa diungkapkan Burhanudin, guru SMP kategori C1 SLB Yayasan Insan Sejahtera. Sejauh ini dirinya merespon baik kebijakan pemerintah dengan diterapkannya kurikulum 2013, termasuk di SLB. “Tapi kenyataan di lapangan, siswa tidak begitu sadar akan perubahan kurikulum. Apapun kurikulumnya, tujuan utama pendidikan bagi mereka lebih pada melatih kemandirian dan bagaimana mereka bisa bergaul serta diterima di lingkungannya,” ungkap Burhanudin.